Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (2)

Gambaran umum APIP :

Peran APIP adalah  melaksanakan salah satu fungsi sebagai auditor internal.  Sebagai auditor internal, maka secara normatif, harus mewujudkan prinsip-prinsip yang berlaku umum dalam organisasi Internal Audit. Definisi yang berlaku, sesuai pemahaman yang dikembangkan oleh IIA adalah sebagai berikut : “ Internal auditing in an independent, objective assuranse and consulting activity designed to add value and improve an organization’s operations. It helps an organization accomplish its objectives by bringing a systematic, disciplined approach to evaluate an improve the effectiveness of risk management, control and governance processes (IIA, 1999).

Sesuai dengan definisi tersebut, maka untuk mewujudkan peran yang efektif, maka peran Internal Auditing oleh APIP harus juga mengacu pada praktek2 modern yang berorientasi kepada pencapaian tujuan organisasi, melalui kegiatan :

  1. Pemberian kepastian, keyakinan dan penjaminan yang memadai (assurance) dengan     melakukan kegiatan antara lain : audit, reviu, penilaian, evaluasi, verifikasi, pengujian    dan pemantauan atau monitoring.
  2. Konsulting  untuk memberikan  solusi atas berbagai macam permasalahan dan pencapaian tujuan organisasi, dengan kegiatan2 : sosialisasi, bimbingan, pendampingan,    pemberian saran / petunjuk, konsultasi, pelatihan2 dan survei.

Yang lebih penting dari orientasi pelaksanaan tugas seperti tersebut di atas, efektivitas   perwujudan peran APIP juga sangat tergantung pada :

  1. Komitment pimpinan di tingkat stakeholder (pemangku kepentingan), yaitu : pimpinan            tertinggi di lingkungan instansi pemerintah dan manajemen instansi pemerintah yang    diawasi, terutama dukungan atas akses informasi / data / sumber daya, persamaan     persepsi dan penentuan fokus, bidang, sektor, ruang lingkup pengawasan, pelaksanaan       rekomendasi tindak lanjut dan penilaian kinerja APIP.
  2. Pengelolaan manajerial pengawasan internal, mulai dari perencanaan, kegiatan tahunan,           pelaksanaan kegiatan sampai dengan pelaporan dan pemantauan tindak lanjut.
  3. Pengembangan kemampuan atau inovasi dalam kegiatan pengawasan intern, seperti     pengembangan kompetensi SDM, penggunaan tehnologi dan pemahaman terhadap             lingkungan pengawasan.

Masa lalu unit pengawasan internal yang lebih menitik beratkan pencarian kesalahan manajemen, yang ujung-ujungnya membuat list daftar dosa dan kesalahan manajemen, melalui  pemahaman yang baru ini sudah menjadi tidak relevan. Unit internal audit harus menjadi bagian dari solusi, harus mampu memberikan  rekomendasi perbaikan yang mampu mengeliminir penyebab yang sistemik dari suatu  penyimpangan.  Peran konsultatif, pendampingan dan  perbaikan manajemen melalui bimbingan, pemberian petunjuk menjadi salah satu titik berat peran internal audit saat ini.  Namun demikian peran watch dog juga masih diperlukan, paling tidak sebagai salah satu upaya penjaminan yang memadai bahwa seluruh tugas dan fungsi  telah dilaksanakan oleh manajemen.

Sumber: C.M. Susetya (Kepala Bagian Umum Sekretariat Itjen)

links: depkeu.go.id, bpk.go.id, stan.ac.id, gao.gov, oag-bvg.gc.ca, rekenkamer.nl, vtv.fi,     anao.gov.au, intosai.org, theiia.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s